Dear my truly friend
1. Ini adalah sebuah surat cinta.
Dan jika kamu enggan membacanya, maka lupakanlah. Anggap aku tidak pernah
menulis, lipat saja, masukkan kembali ke amplop, dan letakkan kembali di meja.
Tapi kalau kamu masih tertarik untuk
membacanya – dan aku tahu kamu tertarik, siapa yang akan bisa menolak sebuah
surat cinta? Kamu pasti penasaran, betul, kan? Maka bacalah. Dalam hati,
jawablah pertanyaanku.
Apa yang kamu mengerti tentang cinta?
Apa jika sahabatmu mencintaimu, itu
adalah kesalahan?
Sudah. Hanya itu.
Kamu bisa pilih cara formal,
semiformal, atau slang saja untuk menjawabnya. Aku pilih cara formal
untuk menyampaikannya. Karena kamu sahabatku, dan aku tidak ingin memberi
jebakan padamu. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan aku sedang melanggar
adat. Maka biarlah aku melanggar adat dengan kesopananku yang tersisa.
2. Aku tidak pernah menulis surat cinta
sebelumnya, dan orang-orang pasti akan melakukan
hal yang sama sepertiku. Mengaku sebelum malu. Kamu pernah begitu, kan?
Menyampaikan surat cinta pada gadis pujaanmu, si dia yang kamu puja-puja di
setiap keadaan? Pernah begitu (lewat fb,
biasanya)? Maaf kalau surat cinta ini membuatmu ingin muntah.
Aku tahu segala hal tentangmu. Dan aku
juga tahu, kamu tahu segala hal tentangku, kamu pernah menjadi secret
admirer –ku, kan? Akupun pernah menjaga segala rahasia yang kamu miliki.
Selama setahun ini, kita saling menjaga utuh persahabatan
kita. Kamu terluka, aku pun begitu. Kita melakukan hal yang sama bersama. Tapi
seperti yang kamu tahu, aku selalu mencoba menjadi yang paling sempurna untuk
mengungkapkan perasaan. Tidak sepertimu. Kamu bebas mengungkapkan perasaanmu
kepada berjuta gadis. Aku, mana bisa?
Lagipula, aku terlalu perfeksionis. Aku
terlalu sibuk berkeliling dalam kehidupanku sendiri, berputar, dan kembali
lagi, jatuh cinta padamu. Aku tidak sempat menyadari ada benih-benih itu di
antara kita. Dan saat aku sadari, aku tidak tahu harus melakukan apa. Entah
bagaimana cara menyatakannya.
Aku membaca banyak buku, untuk menulis
ini. Sepuluh novel cinta dalam seminggu, belasan puisi dalam sehari, dan
beberapa film bertemakan cinta. Kamu harus mengganti rugi waktuku mempelajari
semua roman picisan itu, sungguh. Kamu harus mengerti perasaanku.
3. Kamu ingat hari-hari yang kita lalui
bersama? Seperti teenlit yang kubaca
kemarin. Awalnya saling membenci, menjalin persahabatan, dan akhirnya mereka
jatuh cinta. Apakah aku memiliki rasa itu?
Bagaimana dengan permainan-permainan
konyol itu? Seperti puisi jenaka yang dicipta banyak penyair. Bermain
selendang, bermain kartu, mencuri-curi foto, berlari kejar-kejaran, kamu
menemaniku tidur di lantai bersama hingga terbatuk-batuk keesokan harinya, kamu
ingat? Apa itu yang membuat timbulnya cinta? Dan mengapa itu berakhir ketika
kamu menemukan gadis pujaan lain? Kamu bilang kamu takkan pernah mendapatkan
orang yang kamu cintai. Kamu mengadu padaku, dan senantiasa meringis jika
bercerita tentangnya.
4. Aku tidak tahu kapan timbulnya rasa
ini, dan ribuan pertanyaan tentang
keberadaanmu selama ini. Ingat band favorit ku, Sheila on Seven yang selalu membuat
lagu-lagu tentang persahabatan? Boleh aku ganti musik favoritku?
Aku suka John Legend, aku sering mendengar lagu itu
sekarang. Kalau kamu bukan satu-satunya, kenapa rasanya jiwaku begitu bahagia
berada di sisimu? Kenapa tangan ini hanya tepat untuk kamu genggam? Kenapa hati
ini selalu tertuju untukmu?
5. Jujur.
Lucu menulis surat cinta untukmu. Sementara tiap kita bertemu, kita saling
mencela. Lucu untuk harus jatuh cinta padamu. Sedang aku tahu, kamu bukan
tipeku, dan aku bukan tipemu.
Aku ingin pria yang tampan, cerdas,
bisa bermain gitar, seorang pembalap, setia, dan banyak lagi. Dan kamu ingin
gadis yang maha sempurna, anggun,
dan bisa bergelayut manja di sisimu. Aku mana bisa? Kamu juga bahkan tidak tahu
accor-accord gitar itu. Kita bukanlah bayangan itu. Secara fisik, kita
tidak pernah saling menginginkan.
Dan akhirnya aku mengerti, tidak ada
yang kutahu tentang cinta sebelum ini. Kita tidak bisa memilih kepada siapa
cinta akan ditujukan, karena cintalah yang menemukanku, perasaan ini berat
untuk kusampaikan. Perutku mual dan bahuku bergetar hebat. Aku ingin menangis.
Dan aku tahu aku harus bertindak lebih
rasional, ya seharusnya begitu. Seharusnya aku simpan saja perasaan ini. Simpan
di lemari es hatiku, hingga membeku, dan basi. Seharusnya aku hancurkan saja
rasa cinta ini. Karena sumpah demi Tuhan, aku tidak ingin persahabatan kita
hancur hanya karena surat ini.
6. Tapi perasaan ini begitu kuat
menghancurkan semua pikiran rasional yang kumiliki. Pertanyaan
seperti “apa kamu akan meninggalkan gadis pujaanmu hanya demi aku?” selalu
muncul di benakku. Aku sudah bosan melihatmu terluka karena gadis yang sama,
menungguimu selesai bercerita dan begitu pula denganku, menceritakan lelaki yang sama hingga menangis senggugukan.
Kalau tidak aku yang menghentikan semua
itu, siapa lagi? Kepada siapa lagi kamu selama ini bercerita selain padaku?
Tapi kalau pernyataan cintaku ini juga
tidak bisa membuatmu berpaling dari gadis berhati dingin pujaanmu itu, apa kita
masih bisa makan ice cream bersama setelah saat ini? Hang out dan
menertawakan sekitar kita, berpura-pura pacaran dan bermesraan disaat yang lain sibuk dengan dunianya
masing-masing, lari pagi bersama, ke pantai di saat
merasa gila akan kampus? Kuharap surat ini tidak merubah kedekatan kita. Walau
aku pasti akan mempertanyakan bagaimana status kita setelah ini.
Oh ya, Menurutmu, kenapa aku harus
menulis ini melalui surat? Kenapa tidak lewat sms, bbm, comment di blogmu, atau posting
langsung terang-terangan di blogku?
Kalau kamu bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu, balaslah lewat surat, ya.
Aku mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar