Senin, 27 Oktober 2014

Surat Cinta



Dear my truly friend


1. Ini adalah sebuah surat cinta. Dan jika kamu enggan membacanya, maka lupakanlah. Anggap aku tidak pernah menulis, lipat saja, masukkan kembali ke amplop, dan letakkan kembali di meja.
Tapi kalau kamu masih tertarik untuk membacanya – dan aku tahu kamu tertarik, siapa yang akan bisa menolak sebuah surat cinta? Kamu pasti penasaran, betul, kan? Maka bacalah. Dalam hati, jawablah pertanyaanku.
Apa yang kamu mengerti tentang cinta?
Apa jika sahabatmu mencintaimu, itu adalah kesalahan?
Sudah. Hanya itu.
Kamu bisa pilih cara formal, semiformal, atau slang saja untuk menjawabnya. Aku pilih cara formal untuk menyampaikannya. Karena kamu sahabatku, dan aku tidak ingin memberi jebakan padamu. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan aku sedang melanggar adat. Maka biarlah aku melanggar adat dengan kesopananku yang tersisa.

2. Aku tidak pernah menulis surat cinta sebelumnya, dan orang-orang pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku. Mengaku sebelum malu. Kamu pernah begitu, kan? Menyampaikan surat cinta pada gadis pujaanmu, si dia yang kamu puja-puja di setiap keadaan? Pernah begitu (lewat fb, biasanya)? Maaf kalau surat cinta ini membuatmu ingin muntah.
Aku tahu segala hal tentangmu. Dan aku juga tahu, kamu tahu segala hal tentangku, kamu pernah menjadi secret admirer –ku, kan? Akupun pernah menjaga segala rahasia yang kamu miliki. Selama setahun ini, kita saling menjaga utuh persahabatan kita. Kamu terluka, aku pun begitu. Kita melakukan hal yang sama bersama. Tapi seperti yang kamu tahu, aku selalu mencoba menjadi yang paling sempurna untuk mengungkapkan perasaan. Tidak sepertimu. Kamu bebas mengungkapkan perasaanmu kepada berjuta gadis. Aku, mana bisa?
Lagipula, aku terlalu perfeksionis. Aku terlalu sibuk berkeliling dalam kehidupanku sendiri, berputar, dan kembali lagi, jatuh cinta padamu. Aku tidak sempat menyadari ada benih-benih itu di antara kita. Dan saat aku sadari, aku tidak tahu harus melakukan apa. Entah bagaimana cara menyatakannya.
Aku membaca banyak buku, untuk menulis ini. Sepuluh novel cinta dalam seminggu, belasan puisi dalam sehari, dan beberapa film bertemakan cinta. Kamu harus mengganti rugi waktuku mempelajari semua roman picisan itu, sungguh. Kamu harus mengerti perasaanku.

3. Kamu ingat hari-hari yang kita lalui bersama? Seperti teenlit yang kubaca kemarin. Awalnya saling membenci, menjalin persahabatan, dan akhirnya mereka jatuh cinta. Apakah aku memiliki rasa itu?
Bagaimana dengan permainan-permainan konyol itu? Seperti puisi jenaka yang dicipta banyak penyair. Bermain selendang, bermain kartu, mencuri-curi foto, berlari kejar-kejaran, kamu menemaniku tidur di lantai bersama hingga terbatuk-batuk keesokan harinya, kamu ingat? Apa itu yang membuat timbulnya cinta? Dan mengapa itu berakhir ketika kamu menemukan gadis pujaan lain? Kamu bilang kamu takkan pernah mendapatkan orang yang kamu cintai. Kamu mengadu padaku, dan senantiasa meringis jika bercerita tentangnya.
4. Aku tidak tahu kapan timbulnya rasa ini, dan ribuan pertanyaan tentang keberadaanmu selama ini. Ingat band favorit ku, Sheila on Seven yang selalu membuat lagu-lagu tentang persahabatan? Boleh aku ganti musik favoritku?
Aku suka John Legend, aku sering mendengar lagu itu sekarang. Kalau kamu bukan satu-satunya, kenapa rasanya jiwaku begitu bahagia berada di sisimu? Kenapa tangan ini hanya tepat untuk kamu genggam? Kenapa hati ini selalu tertuju untukmu?


5. Jujur. Lucu menulis surat cinta untukmu. Sementara tiap kita bertemu, kita saling mencela. Lucu untuk harus jatuh cinta padamu. Sedang aku tahu, kamu bukan tipeku, dan aku bukan tipemu.
Aku ingin pria yang tampan, cerdas, bisa bermain gitar, seorang pembalap, setia, dan banyak lagi. Dan kamu ingin gadis yang maha sempurna, anggun, dan bisa bergelayut manja di sisimu. Aku mana bisa? Kamu juga bahkan tidak tahu accor-accord gitar itu. Kita bukanlah bayangan itu. Secara fisik, kita tidak pernah saling menginginkan.
Dan akhirnya aku mengerti, tidak ada yang kutahu tentang cinta sebelum ini. Kita tidak bisa memilih kepada siapa cinta akan ditujukan, karena cintalah yang menemukanku, perasaan ini berat untuk kusampaikan. Perutku mual dan bahuku bergetar hebat. Aku ingin menangis.
Dan aku tahu aku harus bertindak lebih rasional, ya seharusnya begitu. Seharusnya aku simpan saja perasaan ini. Simpan di lemari es hatiku, hingga membeku, dan basi. Seharusnya aku hancurkan saja rasa cinta ini. Karena sumpah demi Tuhan, aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena surat ini.

6. Tapi perasaan ini begitu kuat menghancurkan semua pikiran rasional yang kumiliki. Pertanyaan seperti “apa kamu akan meninggalkan gadis pujaanmu hanya demi aku?” selalu muncul di benakku. Aku sudah bosan melihatmu terluka karena gadis yang sama, menungguimu selesai bercerita dan begitu pula denganku, menceritakan lelaki yang sama hingga menangis senggugukan.
Kalau tidak aku yang menghentikan semua itu, siapa lagi? Kepada siapa lagi kamu selama ini bercerita selain padaku?
Tapi kalau pernyataan cintaku ini juga tidak bisa membuatmu berpaling dari gadis berhati dingin pujaanmu itu, apa kita masih bisa makan ice cream bersama setelah saat ini? Hang out dan menertawakan sekitar kita, berpura-pura pacaran dan bermesraan disaat yang lain sibuk dengan dunianya masing-masing, lari pagi bersama, ke pantai di saat merasa gila akan kampus? Kuharap surat ini tidak merubah kedekatan kita. Walau aku pasti akan mempertanyakan bagaimana status kita setelah ini.
Oh ya, Menurutmu, kenapa aku harus menulis ini melalui surat? Kenapa tidak lewat sms, bbm, comment di blogmu, atau posting langsung terang-terangan di blogku?
Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, balaslah lewat surat, ya.
Aku mencintaimu.

Apa yang Semestinya Tidak Dibicarakan Tidak Perlu Dibicarakan

Kini saya merasa, apa pun yang terjadi di hidup saya tidak untuk saya ceritakan kepada orang lain. Mereka seharusnya saya tulis menjadi cerita. Cerita-cerita yang akan dibaca banyak orang. Yang akan disukai dan dihujat oleh banyak orang itu. Iya, banyak masalah datang selama setahun terakhir. Karena kita tidak menangis dan meratap untuk masalah yang itu-itu saja, maka mungkin itu sebabnya Tuhan memberikan masalah-masalah baru. Yang terjadi setahun ini adalah masalah persahabatan dan bagaimana saya mengelola waktu. Sahabat-sahabat saya memercayakan rahasia mereka. Itulah yang semestinya saya jaga baik-baik. Mereka juga percaya saya dapat melakukan hal-hal yang kami kerjakan bersama hingga tuntas dan dengan hasil baik, bukan justru menunda-nundanya. Banyak penyesalan selama setahun ini. Semoga semuanya menjadi baik-baik saja setelah ini. Kalaupun saya harus mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah saya lakukan, setidaknya saya belajar dari kejadian-kejadian ini. Dan semoga saya tidak mengulang kesalahan yang sama untuk... keempat kalinya.

Senin, 16 Juni 2014

AKU INGIN MEMELUKMU

Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini

Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku

Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kau jalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu

Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku

Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintang di langitnya

Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu

Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu

Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu

Aku ingin memelukmu, sampai Tuhan memeluk kita

Kamis, 05 Juni 2014

Menunggu Cinta

Menunggu Cinta

Kadang menunggu cinta adalah hal yang membosankan
Kecuali jika hati semakin sabar akan hadirnya
Maka cinta akan semakin tumbuh sebelum ia datang menyapa….

Belajar akan cinta….aku belajar untuk merindu
Penantian akan lebih baik dibanding memaksa hati untuk merebut cinta…..
Kecuali…jika aku ingin sakit hati…..

Menunggu cinta membuat aku belajar untuk berpikir
cinta……..
Saat akan kumiliki…
Saat akan kurengkuh dan kugapai indahnya…
Akan lebih baik jika aku bertanya…..
Pantaskah kumiliki ?????…..
Kecuali jika aku gegabah….maka aku harus siap untuk kecewa

Menunggu cinta membuat aku belajar menghargai
Menghargai kepentingan cinta akan sesama
Kecuali jika aku egois…maka aku harus siap terhinakan….

Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memohon..
Berdoa untuk keselamatan cinta….
Kecuali jika aku tak peduli….
Maka aku harus siap kehilangan dalam sekejap….

Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memaknai cinta
Menikmatinya hanya dalam ikatan yg diridhoi oleh Sang Pemilik Cinta Sejati
Kecuali jika aku menuruti hawa nafsu……
Maka aku harus siap tersiksa oleh dekapan dosa…..

Menunggu cinta membuat aku belajar bahwa jln cinta adalah kebenaran
Dan bahwa pacaran bukanlah jalan memaknai cinta…
Kecuali jika aku terus berjalan diatasnya…
Maka aku harus siap untuk semakin buta dan jauh dari cinta sejati……
Menunggu cinta membuat aku belajar
Terserah apa kata yang lain

Tentang Hidup dan Seseorang

Tentang hidup dan Seseorang. Aku ternyata tak benar-benar tahu apa makna sebuah perjalanan. Bahkan setelah sekian tahun aku mengulur-ulur waktu. Untuk terus berkata pada diriku

: Suatu saat nanti,
Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.

Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya

: Akan ada makna dari apa,
Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.

Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.

Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata

: Bagus.
Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.

-

Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.

Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan

: Aku masih hidup.


Tidak pernah peduli, apakah orang lain di sekitarku juga merasa hidup. Terus, berulang-ulang, dengan egoisnya kuulang kalimat fana di kepala:

: Aku hidup.
Tidak gila.
Tidak sekarat.

Walau aku tak mengerti apa yang kini ada di kepalaku.

: Aku selalu dengan tiba-tiba, menulis
Entah kata-kata apa yang berjejalan di kepala

Menyadari bahwa entah kenapa
Hidup tak pernah semudah yang kuduga
Kupikir, menulis paragraf adalah perkara merangkai kalimat
Sama seperti kupikir
Menjalani hidup, hanyalah perkara mengurus perut dan otak.

Ketika aku berbincang dengan satu orang
Muncul perkara subjektivitas
Kekaguman semu
Yang akhirnya menghilang bersama bayang-bayang

Makin aku menyadari


: Bahwa hidup tidak pernah sederhana
: Masa kecil, masa remaja, masa transisi, dewasa, tua, mati
: Masa kecil : Masa dimanja, masa merengek, menangis mengiba
: Masa remaja : Tempat mengumpul rasa suka, melupakan duka
: Masa transisi : Saat kehilangan siapa itu diri
Dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu menemukan.

: Bahwa tiap masa, ternyata akan berbeda maknanya. Untuk mereka-mereka
: yang menangis kelaparan di masa kecilnya, ke sana kemari meminta sedekah
: yang menangis karena iri dengan robot-robotan tetangga sebelah
: yang menangis menjerit-jerit saat pacarnya selingkuh
: yang menangis karena tak bisa melanjutkan sekolah

Bahwa mungkin seorang bocah melihat hidup sebagai permainan.
Penjaja tubuh melihat hidup sebagai nikmat birahi.
Cendekia melihat sebagai perpustakaan ilahi.
Atau biarkan aku melihatnya sebagai apa yang semu.
Dan semu ternyata memiliki banyak kategorinya.

Ingin tertawa?
Bukankah hidup memang sebuah ironi.

Ketika orang berkata

: Inilah titik jenuhmu
Ini hanya pelarianmu
Ukiran pemikiran seorang bocah ingusan

Semua spekulasi muncul. Dan mungkin sudah ditangani oleh teori-teori orang-orang besar yang lahir lebih dulu dariku.

: Kumpulkan apa yang belum pernah ada.
Dan berlelah-lelahlah kumaki diri
Akan ketololan mengumpulkan fakta-fakta.
Dari mana saja.
Dari apa, yang semakin menguras waktu.
Dan berubah-ubah bentuknya.
Dari guratan-guratan di batu-batu di dalam goa, kepada serat optik.

Ingin menyadarkan siapa, bahwa hidup adalah perjalanan tanpa akhir, jika kita terus berjalan untuk menyadarkan dan tidak ingin berhenti.

Lalu apakah sebuah perhentian memang benar pada kematian?


: Aku dulu pernah terhenyak
Ketika mengetahui
Bahwa tiap orang memiliki masalah

Mengulur waktu lagi
Dan kutemukan sesuatu yang kompleks
Bahwa masalah memiliki rantainya
Yang dari mananya,
Timbul rasa ingin tahu

Mencari lagi dan berusaha mengerti
Kepada apa-apa saja masalah itu
: latar belakang ekonomi, kehidupan sosial, kehidupan pribadi?
Kepada bagaimana orang-orang menghadapinya
: berhutang, mencuri, merampok, menangis, bunuh diri?
Kepada karakter-karakter yang berbeda-beda
: yang berdiam, menghujat, memaki, membenarkan diri sendiri?
Kepada latar belakang dari semua pembeda
: psikologi, behavioristik, klenik?
Kepada lingkungan
:keluarga kaya, sederhana, miskin, melarat, keluarga mafia, ayah-ibu otoriter?
: sekolah privat, sekolah swasta, masyarakat, tempat les, geng, perkumpulan?
Kepada proses penempatan
: kenapa di sini? pada keluarga ini? kenapa tidak di sana?
: kenapa di Inggris? Dan bukan di Indonesia?
: kenapa pada tahun 2008? Bukan 1928, pada zaman pemuda?
Kepada proses kelahiran
: di beragam benua
: di beragam waktu
: atau bahkan di planet-planet di galaksi-galaksi di luar sana?
: ditambah juga pada pengukuran segala hal berdasar tahun cahaya?
Kepada proses penciptaan
: terhenti
: pada Tuhan.

Lalu kutemukan lagi
Pada karakter-karakter yang tak percaya
Pada karakter-karakter yang percaya

Pada siapa yang percaya
Kubiarkan mereka terus melangkah
Dan aku terus meneliti ketidakpercayaan

Pada kaum agnostik
Pada sejarah NAZI
Pada komunis-komunis
Sambil membandingkan dengan para agamis

Membaca teori-teori ilmu pengetahuan

: Yang sempat dikelompokkan berdasar kepercayaan

Bahwa hidup itu terlalu rumit
Untuk disibak ada proses apa di baliknya

Melihat sekeliling

: Ada yang terus membaca, beragam bahasa
Ada yang terus menulis, beragam cerita
Ada yang terus melakoni, beragam derita
Atau sekedar bersantai, menyesap bahagia

Aku tidak ingin mengklasifikasikan diriku pada apa

: Tapi kusadari,
Untuk tidak mengklasifikasikan diri,
Adalah sebuah proses
Untuk mengklasifikasikan diri pada orang-orang
Yang juga tidak mengklasifikasikan diri pada apa-apa

Ingin berhenti

: Berarti aku meniru orang-orang yang juga berhenti?
Dan, benarkah memang berhenti?
Yakinkah bahwa kematian akan menghentikan?
Bahwa bunuh diri adalah proses mencapainya?

Aku tak cukup pintar untuk memilih, maka kubiarkan tubuhku terus berjalan, tanpa pengertian. Karena aku tak cukup nyali untuk mengakhiri apa yang tak kuketahui.

Semakin aku diarahkan ke beragam jalan dengan beragam navigasi
Berputar-putar di tempatnya

Jika benar ada banyak kelahiran
Entah sudah berapa abad aku bertarung
Atau berapa tempat telah kusinggahi
Dan berapa kisah telah kutoreh

Mengapa aku terus berjalan?

Apa yang bisa membuatku terhenti?

Karena aku bukan orang yang percaya bahwa proses kematian adalah stasiun perhentian.

Lalu apa aku benar-benar menginginkan sebuah pembinasaan?

Ketiadaan dari diriku?


Dengan ini, apa aku mulai diklasifikasikan sebagai orang yang lelah bertarung di kehidupan?

Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang selalu berspekulasi.

Apa spekulasiku sudah cukup terbaca?

: Sekarang, sebelum lupa, aku menulis ini.
Di tengah malam.
Setelah membaca banyak derita.
Dari orang yang tak pernah banyak bercerita.
Tentang duka yang dia pendam.
“Sendiri?”

Tiap orang memiliki masalahnya.
Dan menganggap hanya aku yang punya masalah,
Mungkin itu masalah lain dalam caraku menghadapi masalah.
Dan untuk menyimpannya sendiri,
Kupikir itu masalah yang akan dia hadapi
Suatu saat ketika semua emosi menelannya.
Atau justru akan menjaganya? Membuatnya aman?

Sejak dulu, bagiku hidup adalah ramalan.

Dan ya,
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kehidupan.


Benarkah kehidupan adalah sebuah perjalanan? Tanpa akhir bahkan tanpa titik perhentian?

Apakah dengan semakin banyak kata-kata, maka semakin mudah juga untuk membuat orang-orang bisa mengenali seperti apa kehidupanku?

Apa aku punya kepentingan untuk konklusi kepada pengertian?

Minggu, 27 April 2014

Yang aku perjuangkan, Yang kau abaikan



Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam dan menunggu  pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.

Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kau tak ada di sampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar kupahami.

Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak, kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.

Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?

Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan matahari, bukan mendung seperti ini.

Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis.

Ini semua perjuanganku untuk mempertahanmu, apakah sudah cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini selalu kau abaikan. Apakah hatimu sedikit tersentuh, hingga kau  ingin datang dan membawaku pulang?