Tuhan Yesus... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat
malam. Aku harap ketiga salam yang aku ucapkan tengah salah satunya di surga. Aku
tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Di Indonesia
hanya ada dua musim, Tuhan. Oleh sebab itu aku hanya menanyakan kedua musim
itu. Tapi, jangan bilang di surga sedang
musim durian Sebab aku penggemar berat durian, Tuhan. Heheh.. Ataukah di surga sekarang
sedang turun salju? Pasti indah, bukan?. Kalau boleh berbincang sedikit, aku
belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah
bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata
kepalaku sendiri. Mungkin di Seoul atau New York juga bisa. Sebelum aku
mencapai umur 25 tahun, aku mohon kabulkanlah itu. Bolehkan, Tuhan? Aku yakin
Tuhan sedang mengangguk sambil tersenyum jengkel saat ini. Tak apa Tuhan, aku
maafkan. Oh… tak sabar menunggu hari itu akan tiba Tuhan..
Aku tahu Engkau tak pernah sibuk untuk hambaMu. Aku tahu
Engkau selalu mendengar isi hatiku meskipun Engkau tak segera memberi pukpuk di
bahuku atau membiarkanku tenggelam dalam dada hangatMu. Aku sangat yakin pasti
rasanya hangat dan nyaman sekali tenggelam didadaMu. Oh.. Tuhan, peluklah aku. Aku
tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Aku percaya
telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin
pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya
menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali
kepingan-kepingan hati yang patah. Juga aku paham betul tentang rencanaMu yang
indah seperti pelangi sehabis hujan.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti
topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu.
Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap
panjang denganMu. Iya, dia. Tentu saja Engkau menjadi hapal kental dengan nama
yang ribuan bahkan puluhribuan kali kuabadikan dalam doa-doaku.
Sejak lama, aku tahu ini akan menjadi jalan sulit yang
kutempuh. Setiap detikku selalu bermanja-manja atau bahkan merajuk imoet padaMu
guna mendapatkan perhatian lebih dariMu yang aku tak dapatkan dari siapapun
didunia ini. Aku sangat butuh perhatian dariMu, mohon jadikan aku kekasih sebab
kekasihku tengah tak bisa memberi perhatian yang aku dambakan. Dia cukup sibuk
dan Tuhan cukup punya waktu untuk memberiku perhatian-perhatian itu. Bukan
bermaksud menjadikan selir hati, kecintaanku pada Tuhan adalah yang pertama dan
terutama namun salahkah gadis kecilMu ini memiliki perasaan seperti orang
dewasa? Aku harap Engkau mengerti tentang jatuh cinta, seperti drama korea yang
baru-baru ini kutonton. Lalu, mengapa Tuhan kelihatan sibuk sehingga tak mengabulkan
permintaanku tahun lalu?
Aku sudah tahu, jalan inilah yang Engkau ciptakan dan akan
merupakan sesuatu yang terbaik untukku. Jarak dengan ribuaan bahkan puluhribuan
kilo meter, tak tersentuh. Aku mengerti kalau Kamu sudah memantapkan rencana
untuk kehidupanku ntah dengan siapapun yang telah Engkau pilih untukku. Tapi...
bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan? Ataukah aku
pasrah saja dengan takdirMu yang kata mereka tak dapat diubah oleh perjuangan
seperti apapun itu? Omong kosong! Bukan padaMu Tuhan, tapi pada mereka yang tak
percaya takdir sebenarnya ditentukan oleh kegigihan umatMu. Dan mungkin, aku
belum cukup gigih untuk meraih impian itu. Buktinya, aku masih begini.
Nah... kalau yang ini, Tuhan juga sudah tahu. Dia tengah
menikmati hari-harinya yang cukup sibuk dan dibatasi oleh keadaan sehingga dia
tak bisa mengabariku. Oh, baiklah aku tengah berpikir ntah ada atau tidaknya
diriku, mungkin tak berpengaruh. Semoga dia sukses, itu juga demi kariernya dan
intinya mau tak mau aku harus mau*bahasa kacau*. Atas alasan apapun itu, aku
harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan
kerinduannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring
mendapatkan perubahan hidupnya, ia pasti disibukan oleh sejuta hal-hal baru. Semoga
dia baik-baik saja tanpa sakit seperti ingusan dan penyakit apapun. Sungguh...
aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak
pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka di dadaku. Luka karna aku
harus merelakan satu-satunya hadiah terindah dari seseorang yang sangat
kusayangi dalam hidup ini. Kini, ia rusak dan tak bisa dibolo. Maafkan aku
karna tak menjagamu sepenuh hati sehingga orang lain berhasil merusakmu.
Kembali, aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.
Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja
menangis, dadaku terasa sesak setiap kali teringat akan mimpi indah itu.
Apalagi ketika dia sepertinya tak memperdulikanku dalam hidupnya. Aku memang
tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup
pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap
manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya.
Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya.
Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa
yang sebenarnya ada dalam hatinya. Sebenarnya,apa isi hatinya, Tuhan?
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya
dengan teman-temannya. Atau tentang kegiatan barunya di asrama. Seminggu sudah
tanpa kabarnya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti
bahagia, karena begitulah setiap kali dia berbincang-bincang denganku. Dia
selalu mengesampingkan hal-hal yang dapat merusak hari-harinya. Okelah, dia
memang pelupa yang luar biasa, begitu katanya. Oleh sebab itulah, aku tak perlu
khawatir akan kebahagiaannya. Pasti, pasti mudah baginya meraih itu semua meski
tanpa mengabariku.
Aku percaya dia sedang dalam titik baik-baik saja, dan tidak
lagi memikirkanku dalam helaan napasnya maupun rutinitasnya yang dulu butuh
semangat dariku. Mungkin, ada orang lain yang lebih menyemangatinya. Begini
Tuhan, aku punya permintaan yang sama seperti kemarin. Jagalah kebahagiaannya
untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan.
Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku
ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang
tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya
dalam doa.
Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan
segala rindu yang tengah kurasa. Agar aku tak merasa kesepian seperti kehilangan
sesuatu yang berharga dari hari-hariku dan tak perlu menangisi sebuah jarak.
Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa
sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa
seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi,
bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang
telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga
tak apa-apa.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia.
Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut
senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah
ingin dia merasakan sakitnya kehilangan, seperti yang aku rasakan.
Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera pulih dari amnesia kemudian
mencariku, mengabariku lalu mengatakan “aku rindu kamu”. Itu mustahil, Tuhan.
Sudah, tak apa. Tak harus seperti itu. Aku hanya minta supaya Engkau selalu
menyertainya, agar segala yang dikerjakannya berhasil ntah dalam hal apapun
juga, lalu jauhkanlah dia dari segala penyakit seperti deman atau influenza
karna belakangan ini cuaca cukup buruk, Tuhan. Oke, tolong kabulkanlah. Amen.
Sekali lagi kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia
bahagia. Cukup.