Minggu, 27 April 2014

Yang aku perjuangkan, Yang kau abaikan



Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam dan menunggu  pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.

Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kau tak ada di sampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar kupahami.

Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak, kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.

Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?

Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan matahari, bukan mendung seperti ini.

Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis.

Ini semua perjuanganku untuk mempertahanmu, apakah sudah cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini selalu kau abaikan. Apakah hatimu sedikit tersentuh, hingga kau  ingin datang dan membawaku pulang?

Jumat, 25 April 2014

Tuhan Yesus, Aku Tak Minta Banyak Hal




Tuhan Yesus... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku harap ketiga salam yang aku ucapkan tengah salah satunya di surga. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Di Indonesia hanya ada dua musim, Tuhan. Oleh sebab itu aku hanya menanyakan kedua musim itu.  Tapi, jangan bilang di surga sedang musim durian Sebab aku penggemar berat durian, Tuhan. Heheh.. Ataukah di surga sekarang sedang turun salju? Pasti indah, bukan?. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin di Seoul atau New York juga bisa. Sebelum aku mencapai umur 25 tahun, aku mohon kabulkanlah itu. Bolehkan, Tuhan? Aku yakin Tuhan sedang mengangguk sambil tersenyum jengkel saat ini. Tak apa Tuhan, aku maafkan. Oh… tak sabar menunggu hari itu akan tiba Tuhan..

Aku tahu Engkau tak pernah sibuk untuk hambaMu. Aku tahu Engkau selalu mendengar isi hatiku meskipun Engkau tak segera memberi pukpuk di bahuku atau membiarkanku tenggelam dalam dada hangatMu. Aku sangat yakin pasti rasanya hangat dan nyaman sekali tenggelam didadaMu. Oh.. Tuhan, peluklah aku. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah. Juga aku paham betul tentang rencanaMu yang indah seperti pelangi sehabis hujan.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu. Iya, dia. Tentu saja Engkau menjadi hapal kental dengan nama yang ribuan bahkan puluhribuan kali kuabadikan dalam doa-doaku.

Sejak lama, aku tahu ini akan menjadi jalan sulit yang kutempuh. Setiap detikku selalu bermanja-manja atau bahkan merajuk imoet padaMu guna mendapatkan perhatian lebih dariMu yang aku tak dapatkan dari siapapun didunia ini. Aku sangat butuh perhatian dariMu, mohon jadikan aku kekasih sebab kekasihku tengah tak bisa memberi perhatian yang aku dambakan. Dia cukup sibuk dan Tuhan cukup punya waktu untuk memberiku perhatian-perhatian itu. Bukan bermaksud menjadikan selir hati, kecintaanku pada Tuhan adalah yang pertama dan terutama namun salahkah gadis kecilMu ini memiliki perasaan seperti orang dewasa? Aku harap Engkau mengerti tentang jatuh cinta, seperti drama korea yang baru-baru ini kutonton. Lalu, mengapa Tuhan kelihatan sibuk sehingga tak mengabulkan permintaanku tahun lalu?

Aku sudah tahu, jalan inilah yang Engkau ciptakan dan akan merupakan sesuatu yang terbaik untukku. Jarak dengan ribuaan bahkan puluhribuan kilo meter, tak tersentuh. Aku mengerti kalau Kamu sudah memantapkan rencana untuk kehidupanku ntah dengan siapapun yang telah Engkau pilih untukku. Tapi... bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan? Ataukah aku pasrah saja dengan takdirMu yang kata mereka tak dapat diubah oleh perjuangan seperti apapun itu? Omong kosong! Bukan padaMu Tuhan, tapi pada mereka yang tak percaya takdir sebenarnya ditentukan oleh kegigihan umatMu. Dan mungkin, aku belum cukup gigih untuk meraih impian itu. Buktinya, aku masih begini.

Nah... kalau yang ini, Tuhan juga sudah tahu. Dia tengah menikmati hari-harinya yang cukup sibuk dan dibatasi oleh keadaan sehingga dia tak bisa mengabariku. Oh, baiklah aku tengah berpikir ntah ada atau tidaknya diriku, mungkin tak berpengaruh. Semoga dia sukses, itu juga demi kariernya dan intinya mau tak mau aku harus mau*bahasa kacau*. Atas alasan apapun itu, aku harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kerinduannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring mendapatkan perubahan hidupnya, ia pasti disibukan oleh sejuta hal-hal baru. Semoga dia baik-baik saja tanpa sakit seperti ingusan dan penyakit apapun. Sungguh... aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka di dadaku. Luka karna aku harus merelakan satu-satunya hadiah terindah dari seseorang yang sangat kusayangi dalam hidup ini. Kini, ia rusak dan tak bisa dibolo. Maafkan aku karna tak menjagamu sepenuh hati sehingga orang lain berhasil merusakmu. Kembali, aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.

Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku terasa sesak setiap kali teringat akan mimpi indah itu. Apalagi ketika dia sepertinya tak memperdulikanku dalam hidupnya. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya. Sebenarnya,apa isi hatinya, Tuhan?

Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan teman-temannya. Atau tentang kegiatan barunya di asrama. Seminggu sudah tanpa kabarnya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena begitulah setiap kali dia berbincang-bincang denganku. Dia selalu mengesampingkan hal-hal yang dapat merusak hari-harinya. Okelah, dia memang pelupa yang luar biasa, begitu katanya. Oleh sebab itulah, aku tak perlu khawatir akan kebahagiaannya. Pasti, pasti mudah baginya meraih itu semua meski tanpa mengabariku.

Aku percaya dia sedang dalam titik baik-baik saja, dan tidak lagi memikirkanku dalam helaan napasnya maupun rutinitasnya yang dulu butuh semangat dariku. Mungkin, ada orang lain yang lebih menyemangatinya. Begini Tuhan, aku punya permintaan yang sama seperti kemarin. Jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.

Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala rindu yang tengah kurasa. Agar aku tak merasa kesepian seperti kehilangan sesuatu yang berharga dari hari-hariku dan tak perlu menangisi sebuah jarak. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga tak apa-apa.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia. Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya kehilangan, seperti yang aku rasakan.

Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera pulih dari amnesia kemudian mencariku, mengabariku lalu mengatakan “aku rindu kamu”. Itu mustahil, Tuhan. Sudah, tak apa. Tak harus seperti itu. Aku hanya minta supaya Engkau selalu menyertainya, agar segala yang dikerjakannya berhasil ntah dalam hal apapun juga, lalu jauhkanlah dia dari segala penyakit seperti deman atau influenza karna belakangan ini cuaca cukup buruk, Tuhan. Oke, tolong kabulkanlah. Amen.

Sekali lagi kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup.