My name is jenni!
Rabu, 18 Juli 2018
Senin, 27 Oktober 2014
Surat Cinta
Dear my truly friend
1. Ini adalah sebuah surat cinta.
Dan jika kamu enggan membacanya, maka lupakanlah. Anggap aku tidak pernah
menulis, lipat saja, masukkan kembali ke amplop, dan letakkan kembali di meja.
Tapi kalau kamu masih tertarik untuk
membacanya – dan aku tahu kamu tertarik, siapa yang akan bisa menolak sebuah
surat cinta? Kamu pasti penasaran, betul, kan? Maka bacalah. Dalam hati,
jawablah pertanyaanku.
Apa yang kamu mengerti tentang cinta?
Apa jika sahabatmu mencintaimu, itu
adalah kesalahan?
Sudah. Hanya itu.
Kamu bisa pilih cara formal,
semiformal, atau slang saja untuk menjawabnya. Aku pilih cara formal
untuk menyampaikannya. Karena kamu sahabatku, dan aku tidak ingin memberi
jebakan padamu. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Dan aku sedang melanggar
adat. Maka biarlah aku melanggar adat dengan kesopananku yang tersisa.
2. Aku tidak pernah menulis surat cinta
sebelumnya, dan orang-orang pasti akan melakukan
hal yang sama sepertiku. Mengaku sebelum malu. Kamu pernah begitu, kan?
Menyampaikan surat cinta pada gadis pujaanmu, si dia yang kamu puja-puja di
setiap keadaan? Pernah begitu (lewat fb,
biasanya)? Maaf kalau surat cinta ini membuatmu ingin muntah.
Aku tahu segala hal tentangmu. Dan aku
juga tahu, kamu tahu segala hal tentangku, kamu pernah menjadi secret
admirer –ku, kan? Akupun pernah menjaga segala rahasia yang kamu miliki.
Selama setahun ini, kita saling menjaga utuh persahabatan
kita. Kamu terluka, aku pun begitu. Kita melakukan hal yang sama bersama. Tapi
seperti yang kamu tahu, aku selalu mencoba menjadi yang paling sempurna untuk
mengungkapkan perasaan. Tidak sepertimu. Kamu bebas mengungkapkan perasaanmu
kepada berjuta gadis. Aku, mana bisa?
Lagipula, aku terlalu perfeksionis. Aku
terlalu sibuk berkeliling dalam kehidupanku sendiri, berputar, dan kembali
lagi, jatuh cinta padamu. Aku tidak sempat menyadari ada benih-benih itu di
antara kita. Dan saat aku sadari, aku tidak tahu harus melakukan apa. Entah
bagaimana cara menyatakannya.
Aku membaca banyak buku, untuk menulis
ini. Sepuluh novel cinta dalam seminggu, belasan puisi dalam sehari, dan
beberapa film bertemakan cinta. Kamu harus mengganti rugi waktuku mempelajari
semua roman picisan itu, sungguh. Kamu harus mengerti perasaanku.
3. Kamu ingat hari-hari yang kita lalui
bersama? Seperti teenlit yang kubaca
kemarin. Awalnya saling membenci, menjalin persahabatan, dan akhirnya mereka
jatuh cinta. Apakah aku memiliki rasa itu?
Bagaimana dengan permainan-permainan
konyol itu? Seperti puisi jenaka yang dicipta banyak penyair. Bermain
selendang, bermain kartu, mencuri-curi foto, berlari kejar-kejaran, kamu
menemaniku tidur di lantai bersama hingga terbatuk-batuk keesokan harinya, kamu
ingat? Apa itu yang membuat timbulnya cinta? Dan mengapa itu berakhir ketika
kamu menemukan gadis pujaan lain? Kamu bilang kamu takkan pernah mendapatkan
orang yang kamu cintai. Kamu mengadu padaku, dan senantiasa meringis jika
bercerita tentangnya.
4. Aku tidak tahu kapan timbulnya rasa
ini, dan ribuan pertanyaan tentang
keberadaanmu selama ini. Ingat band favorit ku, Sheila on Seven yang selalu membuat
lagu-lagu tentang persahabatan? Boleh aku ganti musik favoritku?
Aku suka John Legend, aku sering mendengar lagu itu
sekarang. Kalau kamu bukan satu-satunya, kenapa rasanya jiwaku begitu bahagia
berada di sisimu? Kenapa tangan ini hanya tepat untuk kamu genggam? Kenapa hati
ini selalu tertuju untukmu?
5. Jujur.
Lucu menulis surat cinta untukmu. Sementara tiap kita bertemu, kita saling
mencela. Lucu untuk harus jatuh cinta padamu. Sedang aku tahu, kamu bukan
tipeku, dan aku bukan tipemu.
Aku ingin pria yang tampan, cerdas,
bisa bermain gitar, seorang pembalap, setia, dan banyak lagi. Dan kamu ingin
gadis yang maha sempurna, anggun,
dan bisa bergelayut manja di sisimu. Aku mana bisa? Kamu juga bahkan tidak tahu
accor-accord gitar itu. Kita bukanlah bayangan itu. Secara fisik, kita
tidak pernah saling menginginkan.
Dan akhirnya aku mengerti, tidak ada
yang kutahu tentang cinta sebelum ini. Kita tidak bisa memilih kepada siapa
cinta akan ditujukan, karena cintalah yang menemukanku, perasaan ini berat
untuk kusampaikan. Perutku mual dan bahuku bergetar hebat. Aku ingin menangis.
Dan aku tahu aku harus bertindak lebih
rasional, ya seharusnya begitu. Seharusnya aku simpan saja perasaan ini. Simpan
di lemari es hatiku, hingga membeku, dan basi. Seharusnya aku hancurkan saja
rasa cinta ini. Karena sumpah demi Tuhan, aku tidak ingin persahabatan kita
hancur hanya karena surat ini.
6. Tapi perasaan ini begitu kuat
menghancurkan semua pikiran rasional yang kumiliki. Pertanyaan
seperti “apa kamu akan meninggalkan gadis pujaanmu hanya demi aku?” selalu
muncul di benakku. Aku sudah bosan melihatmu terluka karena gadis yang sama,
menungguimu selesai bercerita dan begitu pula denganku, menceritakan lelaki yang sama hingga menangis senggugukan.
Kalau tidak aku yang menghentikan semua
itu, siapa lagi? Kepada siapa lagi kamu selama ini bercerita selain padaku?
Tapi kalau pernyataan cintaku ini juga
tidak bisa membuatmu berpaling dari gadis berhati dingin pujaanmu itu, apa kita
masih bisa makan ice cream bersama setelah saat ini? Hang out dan
menertawakan sekitar kita, berpura-pura pacaran dan bermesraan disaat yang lain sibuk dengan dunianya
masing-masing, lari pagi bersama, ke pantai di saat
merasa gila akan kampus? Kuharap surat ini tidak merubah kedekatan kita. Walau
aku pasti akan mempertanyakan bagaimana status kita setelah ini.
Oh ya, Menurutmu, kenapa aku harus
menulis ini melalui surat? Kenapa tidak lewat sms, bbm, comment di blogmu, atau posting
langsung terang-terangan di blogku?
Kalau kamu bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu, balaslah lewat surat, ya.
Aku mencintaimu.
Apa yang Semestinya Tidak Dibicarakan Tidak Perlu Dibicarakan
Kini saya merasa, apa pun yang terjadi
di hidup saya tidak untuk saya ceritakan kepada orang lain. Mereka seharusnya
saya tulis menjadi cerita. Cerita-cerita yang akan dibaca banyak orang. Yang
akan disukai dan dihujat oleh banyak orang itu. Iya, banyak masalah datang
selama setahun terakhir. Karena kita tidak menangis dan meratap untuk masalah
yang itu-itu saja, maka mungkin itu sebabnya Tuhan memberikan masalah-masalah
baru. Yang terjadi setahun ini adalah masalah persahabatan dan bagaimana saya
mengelola waktu. Sahabat-sahabat saya memercayakan rahasia mereka. Itulah
yang semestinya saya jaga baik-baik. Mereka juga percaya saya dapat melakukan
hal-hal yang kami kerjakan bersama hingga tuntas dan dengan hasil baik, bukan
justru menunda-nundanya. Banyak penyesalan selama setahun ini. Semoga
semuanya menjadi baik-baik saja setelah ini. Kalaupun saya harus
mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah saya lakukan, setidaknya saya
belajar dari kejadian-kejadian ini. Dan semoga saya tidak mengulang kesalahan
yang sama untuk... keempat kalinya.
Senin, 16 Juni 2014
AKU INGIN MEMELUKMU
Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kau jalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu
Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku
Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintang di langitnya
Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu
Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu
Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu
Aku ingin memelukmu, sampai Tuhan memeluk kita
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kau jalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu
Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku
Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintang di langitnya
Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu
Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu
Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu
Aku ingin memelukmu, sampai Tuhan memeluk kita
Kamis, 05 Juni 2014
Menunggu Cinta
Menunggu Cinta
Kadang menunggu cinta adalah hal yang membosankan
Kecuali jika hati semakin sabar akan hadirnya
Maka cinta akan semakin tumbuh sebelum ia datang menyapa….
Belajar akan cinta….aku belajar untuk merindu
Penantian akan lebih baik dibanding memaksa hati untuk merebut cinta…..
Kecuali…jika aku ingin sakit hati…..
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk berpikir
cinta……..
Saat akan kumiliki…
Saat akan kurengkuh dan kugapai indahnya…
Akan lebih baik jika aku bertanya…..
Pantaskah kumiliki ?????…..
Kecuali jika aku gegabah….maka aku harus siap untuk kecewa
Menunggu cinta membuat aku belajar menghargai
Menghargai kepentingan cinta akan sesama
Kecuali jika aku egois…maka aku harus siap terhinakan….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memohon..
Berdoa untuk keselamatan cinta….
Kecuali jika aku tak peduli….
Maka aku harus siap kehilangan dalam sekejap….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memaknai cinta
Menikmatinya hanya dalam ikatan yg diridhoi oleh Sang Pemilik Cinta Sejati
Kecuali jika aku menuruti hawa nafsu……
Maka aku harus siap tersiksa oleh dekapan dosa…..
Menunggu cinta membuat aku belajar bahwa jln cinta adalah kebenaran
Dan bahwa pacaran bukanlah jalan memaknai cinta…
Kecuali jika aku terus berjalan diatasnya…
Maka aku harus siap untuk semakin buta dan jauh dari cinta sejati……
Menunggu cinta membuat aku belajar
Terserah apa kata yang lain
Kadang menunggu cinta adalah hal yang membosankan
Kecuali jika hati semakin sabar akan hadirnya
Maka cinta akan semakin tumbuh sebelum ia datang menyapa….
Belajar akan cinta….aku belajar untuk merindu
Penantian akan lebih baik dibanding memaksa hati untuk merebut cinta…..
Kecuali…jika aku ingin sakit hati…..
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk berpikir
cinta……..
Saat akan kumiliki…
Saat akan kurengkuh dan kugapai indahnya…
Akan lebih baik jika aku bertanya…..
Pantaskah kumiliki ?????…..
Kecuali jika aku gegabah….maka aku harus siap untuk kecewa
Menunggu cinta membuat aku belajar menghargai
Menghargai kepentingan cinta akan sesama
Kecuali jika aku egois…maka aku harus siap terhinakan….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memohon..
Berdoa untuk keselamatan cinta….
Kecuali jika aku tak peduli….
Maka aku harus siap kehilangan dalam sekejap….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memaknai cinta
Menikmatinya hanya dalam ikatan yg diridhoi oleh Sang Pemilik Cinta Sejati
Kecuali jika aku menuruti hawa nafsu……
Maka aku harus siap tersiksa oleh dekapan dosa…..
Menunggu cinta membuat aku belajar bahwa jln cinta adalah kebenaran
Dan bahwa pacaran bukanlah jalan memaknai cinta…
Kecuali jika aku terus berjalan diatasnya…
Maka aku harus siap untuk semakin buta dan jauh dari cinta sejati……
Menunggu cinta membuat aku belajar
Terserah apa kata yang lain
Tentang Hidup dan Seseorang
Tentang hidup dan Seseorang. Aku
ternyata tak benar-benar tahu apa makna sebuah perjalanan. Bahkan
setelah sekian tahun aku mengulur-ulur waktu. Untuk terus berkata pada
diriku
: Suatu saat nanti,
Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.
Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya
: Akan ada makna dari apa,
Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.
Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.
Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata
: Bagus.
Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.
-
Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.
Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan
: Aku masih hidup.
Tidak pernah peduli, apakah orang lain di sekitarku juga merasa hidup. Terus, berulang-ulang, dengan egoisnya kuulang kalimat fana di kepala:
: Aku hidup.
Tidak gila.
Tidak sekarat.
Walau aku tak mengerti apa yang kini ada di kepalaku.
: Aku selalu dengan tiba-tiba, menulis
Entah kata-kata apa yang berjejalan di kepala
Menyadari bahwa entah kenapa
Hidup tak pernah semudah yang kuduga
Kupikir, menulis paragraf adalah perkara merangkai kalimat
Sama seperti kupikir
Menjalani hidup, hanyalah perkara mengurus perut dan otak.
Ketika aku berbincang dengan satu orang
Muncul perkara subjektivitas
Kekaguman semu
Yang akhirnya menghilang bersama bayang-bayang
Makin aku menyadari
: Bahwa hidup tidak pernah sederhana
: Masa kecil, masa remaja, masa transisi, dewasa, tua, mati
: Masa kecil : Masa dimanja, masa merengek, menangis mengiba
: Masa remaja : Tempat mengumpul rasa suka, melupakan duka
: Masa transisi : Saat kehilangan siapa itu diri
Dan seterusnya dan seterusnya.
Lalu menemukan.
: Bahwa tiap masa, ternyata akan berbeda maknanya. Untuk mereka-mereka
: yang menangis kelaparan di masa kecilnya, ke sana kemari meminta sedekah
: yang menangis karena iri dengan robot-robotan tetangga sebelah
: yang menangis menjerit-jerit saat pacarnya selingkuh
: yang menangis karena tak bisa melanjutkan sekolah
Bahwa mungkin seorang bocah melihat hidup sebagai permainan.
Penjaja tubuh melihat hidup sebagai nikmat birahi.
Cendekia melihat sebagai perpustakaan ilahi.
Atau biarkan aku melihatnya sebagai apa yang semu.
Dan semu ternyata memiliki banyak kategorinya.
Ingin tertawa?
Bukankah hidup memang sebuah ironi.
Ketika orang berkata
: Inilah titik jenuhmu
Ini hanya pelarianmu
Ukiran pemikiran seorang bocah ingusan
Semua spekulasi muncul. Dan mungkin sudah ditangani oleh teori-teori orang-orang besar yang lahir lebih dulu dariku.
: Kumpulkan apa yang belum pernah ada.
Dan berlelah-lelahlah kumaki diri
Akan ketololan mengumpulkan fakta-fakta.
Dari mana saja.
Dari apa, yang semakin menguras waktu.
Dan berubah-ubah bentuknya.
Dari guratan-guratan di batu-batu di dalam goa, kepada serat optik.
Ingin menyadarkan siapa, bahwa hidup adalah perjalanan tanpa akhir, jika kita terus berjalan untuk menyadarkan dan tidak ingin berhenti.
Lalu apakah sebuah perhentian memang benar pada kematian?
: Aku dulu pernah terhenyak
Ketika mengetahui
Bahwa tiap orang memiliki masalah
Mengulur waktu lagi
Dan kutemukan sesuatu yang kompleks
Bahwa masalah memiliki rantainya
Yang dari mananya,
Timbul rasa ingin tahu
Mencari lagi dan berusaha mengerti
Kepada apa-apa saja masalah itu
: latar belakang ekonomi, kehidupan sosial, kehidupan pribadi?
Kepada bagaimana orang-orang menghadapinya
: berhutang, mencuri, merampok, menangis, bunuh diri?
Kepada karakter-karakter yang berbeda-beda
: yang berdiam, menghujat, memaki, membenarkan diri sendiri?
Kepada latar belakang dari semua pembeda
: psikologi, behavioristik, klenik?
Kepada lingkungan
:keluarga kaya, sederhana, miskin, melarat, keluarga mafia, ayah-ibu otoriter?
: sekolah privat, sekolah swasta, masyarakat, tempat les, geng, perkumpulan?
Kepada proses penempatan
: kenapa di sini? pada keluarga ini? kenapa tidak di sana?
: kenapa di Inggris? Dan bukan di Indonesia?
: kenapa pada tahun 2008? Bukan 1928, pada zaman pemuda?
Kepada proses kelahiran
: di beragam benua
: di beragam waktu
: atau bahkan di planet-planet di galaksi-galaksi di luar sana?
: ditambah juga pada pengukuran segala hal berdasar tahun cahaya?
Kepada proses penciptaan
: terhenti
: pada Tuhan.
Lalu kutemukan lagi
Pada karakter-karakter yang tak percaya
Pada karakter-karakter yang percaya
Pada siapa yang percaya
Kubiarkan mereka terus melangkah
Dan aku terus meneliti ketidakpercayaan
Pada kaum agnostik
Pada sejarah NAZI
Pada komunis-komunis
Sambil membandingkan dengan para agamis
Membaca teori-teori ilmu pengetahuan
: Yang sempat dikelompokkan berdasar kepercayaan
Bahwa hidup itu terlalu rumit
Untuk disibak ada proses apa di baliknya
Melihat sekeliling
: Ada yang terus membaca, beragam bahasa
Ada yang terus menulis, beragam cerita
Ada yang terus melakoni, beragam derita
Atau sekedar bersantai, menyesap bahagia
Aku tidak ingin mengklasifikasikan diriku pada apa
: Tapi kusadari,
Untuk tidak mengklasifikasikan diri,
Adalah sebuah proses
Untuk mengklasifikasikan diri pada orang-orang
Yang juga tidak mengklasifikasikan diri pada apa-apa
Ingin berhenti
: Berarti aku meniru orang-orang yang juga berhenti?
Dan, benarkah memang berhenti?
Yakinkah bahwa kematian akan menghentikan?
Bahwa bunuh diri adalah proses mencapainya?
Aku tak cukup pintar untuk memilih, maka kubiarkan tubuhku terus berjalan, tanpa pengertian. Karena aku tak cukup nyali untuk mengakhiri apa yang tak kuketahui.
Semakin aku diarahkan ke beragam jalan dengan beragam navigasi
Berputar-putar di tempatnya
Jika benar ada banyak kelahiran
Entah sudah berapa abad aku bertarung
Atau berapa tempat telah kusinggahi
Dan berapa kisah telah kutoreh
Mengapa aku terus berjalan?
Apa yang bisa membuatku terhenti?
Karena aku bukan orang yang percaya bahwa proses kematian adalah stasiun perhentian.
Lalu apa aku benar-benar menginginkan sebuah pembinasaan?
Ketiadaan dari diriku?
Dengan ini, apa aku mulai diklasifikasikan sebagai orang yang lelah bertarung di kehidupan?
Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang selalu berspekulasi.
Apa spekulasiku sudah cukup terbaca?
: Sekarang, sebelum lupa, aku menulis ini.
Di tengah malam.
Setelah membaca banyak derita.
Dari orang yang tak pernah banyak bercerita.
Tentang duka yang dia pendam.
“Sendiri?”
Tiap orang memiliki masalahnya.
Dan menganggap hanya aku yang punya masalah,
Mungkin itu masalah lain dalam caraku menghadapi masalah.
Dan untuk menyimpannya sendiri,
Kupikir itu masalah yang akan dia hadapi
Suatu saat ketika semua emosi menelannya.
Atau justru akan menjaganya? Membuatnya aman?
Sejak dulu, bagiku hidup adalah ramalan.
Dan ya,
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kehidupan.
Benarkah kehidupan adalah sebuah perjalanan? Tanpa akhir bahkan tanpa titik perhentian?
Apakah dengan semakin banyak kata-kata, maka semakin mudah juga untuk membuat orang-orang bisa mengenali seperti apa kehidupanku?
Apa aku punya kepentingan untuk konklusi kepada pengertian?
: Suatu saat nanti,
Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.
Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya
: Akan ada makna dari apa,
Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.
Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.
Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata
: Bagus.
Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.
-
Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.
Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan
: Aku masih hidup.
Tidak pernah peduli, apakah orang lain di sekitarku juga merasa hidup. Terus, berulang-ulang, dengan egoisnya kuulang kalimat fana di kepala:
: Aku hidup.
Tidak gila.
Tidak sekarat.
Walau aku tak mengerti apa yang kini ada di kepalaku.
: Aku selalu dengan tiba-tiba, menulis
Entah kata-kata apa yang berjejalan di kepala
Menyadari bahwa entah kenapa
Hidup tak pernah semudah yang kuduga
Kupikir, menulis paragraf adalah perkara merangkai kalimat
Sama seperti kupikir
Menjalani hidup, hanyalah perkara mengurus perut dan otak.
Ketika aku berbincang dengan satu orang
Muncul perkara subjektivitas
Kekaguman semu
Yang akhirnya menghilang bersama bayang-bayang
Makin aku menyadari
: Bahwa hidup tidak pernah sederhana
: Masa kecil, masa remaja, masa transisi, dewasa, tua, mati
: Masa kecil : Masa dimanja, masa merengek, menangis mengiba
: Masa remaja : Tempat mengumpul rasa suka, melupakan duka
: Masa transisi : Saat kehilangan siapa itu diri
Dan seterusnya dan seterusnya.
Lalu menemukan.
: Bahwa tiap masa, ternyata akan berbeda maknanya. Untuk mereka-mereka
: yang menangis kelaparan di masa kecilnya, ke sana kemari meminta sedekah
: yang menangis karena iri dengan robot-robotan tetangga sebelah
: yang menangis menjerit-jerit saat pacarnya selingkuh
: yang menangis karena tak bisa melanjutkan sekolah
Bahwa mungkin seorang bocah melihat hidup sebagai permainan.
Penjaja tubuh melihat hidup sebagai nikmat birahi.
Cendekia melihat sebagai perpustakaan ilahi.
Atau biarkan aku melihatnya sebagai apa yang semu.
Dan semu ternyata memiliki banyak kategorinya.
Ingin tertawa?
Bukankah hidup memang sebuah ironi.
Ketika orang berkata
: Inilah titik jenuhmu
Ini hanya pelarianmu
Ukiran pemikiran seorang bocah ingusan
Semua spekulasi muncul. Dan mungkin sudah ditangani oleh teori-teori orang-orang besar yang lahir lebih dulu dariku.
: Kumpulkan apa yang belum pernah ada.
Dan berlelah-lelahlah kumaki diri
Akan ketololan mengumpulkan fakta-fakta.
Dari mana saja.
Dari apa, yang semakin menguras waktu.
Dan berubah-ubah bentuknya.
Dari guratan-guratan di batu-batu di dalam goa, kepada serat optik.
Ingin menyadarkan siapa, bahwa hidup adalah perjalanan tanpa akhir, jika kita terus berjalan untuk menyadarkan dan tidak ingin berhenti.
Lalu apakah sebuah perhentian memang benar pada kematian?
: Aku dulu pernah terhenyak
Ketika mengetahui
Bahwa tiap orang memiliki masalah
Mengulur waktu lagi
Dan kutemukan sesuatu yang kompleks
Bahwa masalah memiliki rantainya
Yang dari mananya,
Timbul rasa ingin tahu
Mencari lagi dan berusaha mengerti
Kepada apa-apa saja masalah itu
: latar belakang ekonomi, kehidupan sosial, kehidupan pribadi?
Kepada bagaimana orang-orang menghadapinya
: berhutang, mencuri, merampok, menangis, bunuh diri?
Kepada karakter-karakter yang berbeda-beda
: yang berdiam, menghujat, memaki, membenarkan diri sendiri?
Kepada latar belakang dari semua pembeda
: psikologi, behavioristik, klenik?
Kepada lingkungan
:keluarga kaya, sederhana, miskin, melarat, keluarga mafia, ayah-ibu otoriter?
: sekolah privat, sekolah swasta, masyarakat, tempat les, geng, perkumpulan?
Kepada proses penempatan
: kenapa di sini? pada keluarga ini? kenapa tidak di sana?
: kenapa di Inggris? Dan bukan di Indonesia?
: kenapa pada tahun 2008? Bukan 1928, pada zaman pemuda?
Kepada proses kelahiran
: di beragam benua
: di beragam waktu
: atau bahkan di planet-planet di galaksi-galaksi di luar sana?
: ditambah juga pada pengukuran segala hal berdasar tahun cahaya?
Kepada proses penciptaan
: terhenti
: pada Tuhan.
Lalu kutemukan lagi
Pada karakter-karakter yang tak percaya
Pada karakter-karakter yang percaya
Pada siapa yang percaya
Kubiarkan mereka terus melangkah
Dan aku terus meneliti ketidakpercayaan
Pada kaum agnostik
Pada sejarah NAZI
Pada komunis-komunis
Sambil membandingkan dengan para agamis
Membaca teori-teori ilmu pengetahuan
: Yang sempat dikelompokkan berdasar kepercayaan
Bahwa hidup itu terlalu rumit
Untuk disibak ada proses apa di baliknya
Melihat sekeliling
: Ada yang terus membaca, beragam bahasa
Ada yang terus menulis, beragam cerita
Ada yang terus melakoni, beragam derita
Atau sekedar bersantai, menyesap bahagia
Aku tidak ingin mengklasifikasikan diriku pada apa
: Tapi kusadari,
Untuk tidak mengklasifikasikan diri,
Adalah sebuah proses
Untuk mengklasifikasikan diri pada orang-orang
Yang juga tidak mengklasifikasikan diri pada apa-apa
Ingin berhenti
: Berarti aku meniru orang-orang yang juga berhenti?
Dan, benarkah memang berhenti?
Yakinkah bahwa kematian akan menghentikan?
Bahwa bunuh diri adalah proses mencapainya?
Aku tak cukup pintar untuk memilih, maka kubiarkan tubuhku terus berjalan, tanpa pengertian. Karena aku tak cukup nyali untuk mengakhiri apa yang tak kuketahui.
Semakin aku diarahkan ke beragam jalan dengan beragam navigasi
Berputar-putar di tempatnya
Jika benar ada banyak kelahiran
Entah sudah berapa abad aku bertarung
Atau berapa tempat telah kusinggahi
Dan berapa kisah telah kutoreh
Mengapa aku terus berjalan?
Apa yang bisa membuatku terhenti?
Karena aku bukan orang yang percaya bahwa proses kematian adalah stasiun perhentian.
Lalu apa aku benar-benar menginginkan sebuah pembinasaan?
Ketiadaan dari diriku?
Dengan ini, apa aku mulai diklasifikasikan sebagai orang yang lelah bertarung di kehidupan?
Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang selalu berspekulasi.
Apa spekulasiku sudah cukup terbaca?
: Sekarang, sebelum lupa, aku menulis ini.
Di tengah malam.
Setelah membaca banyak derita.
Dari orang yang tak pernah banyak bercerita.
Tentang duka yang dia pendam.
“Sendiri?”
Tiap orang memiliki masalahnya.
Dan menganggap hanya aku yang punya masalah,
Mungkin itu masalah lain dalam caraku menghadapi masalah.
Dan untuk menyimpannya sendiri,
Kupikir itu masalah yang akan dia hadapi
Suatu saat ketika semua emosi menelannya.
Atau justru akan menjaganya? Membuatnya aman?
Sejak dulu, bagiku hidup adalah ramalan.
Dan ya,
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kehidupan.
Benarkah kehidupan adalah sebuah perjalanan? Tanpa akhir bahkan tanpa titik perhentian?
Apakah dengan semakin banyak kata-kata, maka semakin mudah juga untuk membuat orang-orang bisa mengenali seperti apa kehidupanku?
Apa aku punya kepentingan untuk konklusi kepada pengertian?
Minggu, 27 April 2014
Yang aku perjuangkan, Yang kau abaikan
Setiap
orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam
dan menunggu pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah
yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa
masih ingin memperjuangkanmu.
Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan
ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kau tak ada di sampingku, entah untuk
menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka
seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangmu? Aku tak tahu, jadi jangan
tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar
kupahami.
Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu
yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam
penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak,
kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu,
sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya,
aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan
sakit bagiku.
Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu
tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang
selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti
apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan
sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?
Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam
menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan
mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah
dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan
matahari, bukan mendung seperti ini.
Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana
larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa
memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali
kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya
aku ingin menangis.
Ini semua perjuanganku untuk mempertahanmu, apakah sudah
cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini
selalu kau abaikan. Apakah hatimu sedikit tersentuh, hingga kau ingin datang dan membawaku pulang?
Langganan:
Postingan (Atom)