Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kau jalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu
Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku
Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintang di langitnya
Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu
Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu
Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu
Aku ingin memelukmu, sampai Tuhan memeluk kita
Senin, 16 Juni 2014
Kamis, 05 Juni 2014
Menunggu Cinta
Menunggu Cinta
Kadang menunggu cinta adalah hal yang membosankan
Kecuali jika hati semakin sabar akan hadirnya
Maka cinta akan semakin tumbuh sebelum ia datang menyapa….
Belajar akan cinta….aku belajar untuk merindu
Penantian akan lebih baik dibanding memaksa hati untuk merebut cinta…..
Kecuali…jika aku ingin sakit hati…..
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk berpikir
cinta……..
Saat akan kumiliki…
Saat akan kurengkuh dan kugapai indahnya…
Akan lebih baik jika aku bertanya…..
Pantaskah kumiliki ?????…..
Kecuali jika aku gegabah….maka aku harus siap untuk kecewa
Menunggu cinta membuat aku belajar menghargai
Menghargai kepentingan cinta akan sesama
Kecuali jika aku egois…maka aku harus siap terhinakan….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memohon..
Berdoa untuk keselamatan cinta….
Kecuali jika aku tak peduli….
Maka aku harus siap kehilangan dalam sekejap….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memaknai cinta
Menikmatinya hanya dalam ikatan yg diridhoi oleh Sang Pemilik Cinta Sejati
Kecuali jika aku menuruti hawa nafsu……
Maka aku harus siap tersiksa oleh dekapan dosa…..
Menunggu cinta membuat aku belajar bahwa jln cinta adalah kebenaran
Dan bahwa pacaran bukanlah jalan memaknai cinta…
Kecuali jika aku terus berjalan diatasnya…
Maka aku harus siap untuk semakin buta dan jauh dari cinta sejati……
Menunggu cinta membuat aku belajar
Terserah apa kata yang lain
Kadang menunggu cinta adalah hal yang membosankan
Kecuali jika hati semakin sabar akan hadirnya
Maka cinta akan semakin tumbuh sebelum ia datang menyapa….
Belajar akan cinta….aku belajar untuk merindu
Penantian akan lebih baik dibanding memaksa hati untuk merebut cinta…..
Kecuali…jika aku ingin sakit hati…..
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk berpikir
cinta……..
Saat akan kumiliki…
Saat akan kurengkuh dan kugapai indahnya…
Akan lebih baik jika aku bertanya…..
Pantaskah kumiliki ?????…..
Kecuali jika aku gegabah….maka aku harus siap untuk kecewa
Menunggu cinta membuat aku belajar menghargai
Menghargai kepentingan cinta akan sesama
Kecuali jika aku egois…maka aku harus siap terhinakan….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memohon..
Berdoa untuk keselamatan cinta….
Kecuali jika aku tak peduli….
Maka aku harus siap kehilangan dalam sekejap….
Menunggu cinta membuat aku belajar untuk memaknai cinta
Menikmatinya hanya dalam ikatan yg diridhoi oleh Sang Pemilik Cinta Sejati
Kecuali jika aku menuruti hawa nafsu……
Maka aku harus siap tersiksa oleh dekapan dosa…..
Menunggu cinta membuat aku belajar bahwa jln cinta adalah kebenaran
Dan bahwa pacaran bukanlah jalan memaknai cinta…
Kecuali jika aku terus berjalan diatasnya…
Maka aku harus siap untuk semakin buta dan jauh dari cinta sejati……
Menunggu cinta membuat aku belajar
Terserah apa kata yang lain
Tentang Hidup dan Seseorang
Tentang hidup dan Seseorang. Aku
ternyata tak benar-benar tahu apa makna sebuah perjalanan. Bahkan
setelah sekian tahun aku mengulur-ulur waktu. Untuk terus berkata pada
diriku
: Suatu saat nanti,
Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.
Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya
: Akan ada makna dari apa,
Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.
Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.
Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata
: Bagus.
Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.
-
Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.
Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan
: Aku masih hidup.
Tidak pernah peduli, apakah orang lain di sekitarku juga merasa hidup. Terus, berulang-ulang, dengan egoisnya kuulang kalimat fana di kepala:
: Aku hidup.
Tidak gila.
Tidak sekarat.
Walau aku tak mengerti apa yang kini ada di kepalaku.
: Aku selalu dengan tiba-tiba, menulis
Entah kata-kata apa yang berjejalan di kepala
Menyadari bahwa entah kenapa
Hidup tak pernah semudah yang kuduga
Kupikir, menulis paragraf adalah perkara merangkai kalimat
Sama seperti kupikir
Menjalani hidup, hanyalah perkara mengurus perut dan otak.
Ketika aku berbincang dengan satu orang
Muncul perkara subjektivitas
Kekaguman semu
Yang akhirnya menghilang bersama bayang-bayang
Makin aku menyadari
: Bahwa hidup tidak pernah sederhana
: Masa kecil, masa remaja, masa transisi, dewasa, tua, mati
: Masa kecil : Masa dimanja, masa merengek, menangis mengiba
: Masa remaja : Tempat mengumpul rasa suka, melupakan duka
: Masa transisi : Saat kehilangan siapa itu diri
Dan seterusnya dan seterusnya.
Lalu menemukan.
: Bahwa tiap masa, ternyata akan berbeda maknanya. Untuk mereka-mereka
: yang menangis kelaparan di masa kecilnya, ke sana kemari meminta sedekah
: yang menangis karena iri dengan robot-robotan tetangga sebelah
: yang menangis menjerit-jerit saat pacarnya selingkuh
: yang menangis karena tak bisa melanjutkan sekolah
Bahwa mungkin seorang bocah melihat hidup sebagai permainan.
Penjaja tubuh melihat hidup sebagai nikmat birahi.
Cendekia melihat sebagai perpustakaan ilahi.
Atau biarkan aku melihatnya sebagai apa yang semu.
Dan semu ternyata memiliki banyak kategorinya.
Ingin tertawa?
Bukankah hidup memang sebuah ironi.
Ketika orang berkata
: Inilah titik jenuhmu
Ini hanya pelarianmu
Ukiran pemikiran seorang bocah ingusan
Semua spekulasi muncul. Dan mungkin sudah ditangani oleh teori-teori orang-orang besar yang lahir lebih dulu dariku.
: Kumpulkan apa yang belum pernah ada.
Dan berlelah-lelahlah kumaki diri
Akan ketololan mengumpulkan fakta-fakta.
Dari mana saja.
Dari apa, yang semakin menguras waktu.
Dan berubah-ubah bentuknya.
Dari guratan-guratan di batu-batu di dalam goa, kepada serat optik.
Ingin menyadarkan siapa, bahwa hidup adalah perjalanan tanpa akhir, jika kita terus berjalan untuk menyadarkan dan tidak ingin berhenti.
Lalu apakah sebuah perhentian memang benar pada kematian?
: Aku dulu pernah terhenyak
Ketika mengetahui
Bahwa tiap orang memiliki masalah
Mengulur waktu lagi
Dan kutemukan sesuatu yang kompleks
Bahwa masalah memiliki rantainya
Yang dari mananya,
Timbul rasa ingin tahu
Mencari lagi dan berusaha mengerti
Kepada apa-apa saja masalah itu
: latar belakang ekonomi, kehidupan sosial, kehidupan pribadi?
Kepada bagaimana orang-orang menghadapinya
: berhutang, mencuri, merampok, menangis, bunuh diri?
Kepada karakter-karakter yang berbeda-beda
: yang berdiam, menghujat, memaki, membenarkan diri sendiri?
Kepada latar belakang dari semua pembeda
: psikologi, behavioristik, klenik?
Kepada lingkungan
:keluarga kaya, sederhana, miskin, melarat, keluarga mafia, ayah-ibu otoriter?
: sekolah privat, sekolah swasta, masyarakat, tempat les, geng, perkumpulan?
Kepada proses penempatan
: kenapa di sini? pada keluarga ini? kenapa tidak di sana?
: kenapa di Inggris? Dan bukan di Indonesia?
: kenapa pada tahun 2008? Bukan 1928, pada zaman pemuda?
Kepada proses kelahiran
: di beragam benua
: di beragam waktu
: atau bahkan di planet-planet di galaksi-galaksi di luar sana?
: ditambah juga pada pengukuran segala hal berdasar tahun cahaya?
Kepada proses penciptaan
: terhenti
: pada Tuhan.
Lalu kutemukan lagi
Pada karakter-karakter yang tak percaya
Pada karakter-karakter yang percaya
Pada siapa yang percaya
Kubiarkan mereka terus melangkah
Dan aku terus meneliti ketidakpercayaan
Pada kaum agnostik
Pada sejarah NAZI
Pada komunis-komunis
Sambil membandingkan dengan para agamis
Membaca teori-teori ilmu pengetahuan
: Yang sempat dikelompokkan berdasar kepercayaan
Bahwa hidup itu terlalu rumit
Untuk disibak ada proses apa di baliknya
Melihat sekeliling
: Ada yang terus membaca, beragam bahasa
Ada yang terus menulis, beragam cerita
Ada yang terus melakoni, beragam derita
Atau sekedar bersantai, menyesap bahagia
Aku tidak ingin mengklasifikasikan diriku pada apa
: Tapi kusadari,
Untuk tidak mengklasifikasikan diri,
Adalah sebuah proses
Untuk mengklasifikasikan diri pada orang-orang
Yang juga tidak mengklasifikasikan diri pada apa-apa
Ingin berhenti
: Berarti aku meniru orang-orang yang juga berhenti?
Dan, benarkah memang berhenti?
Yakinkah bahwa kematian akan menghentikan?
Bahwa bunuh diri adalah proses mencapainya?
Aku tak cukup pintar untuk memilih, maka kubiarkan tubuhku terus berjalan, tanpa pengertian. Karena aku tak cukup nyali untuk mengakhiri apa yang tak kuketahui.
Semakin aku diarahkan ke beragam jalan dengan beragam navigasi
Berputar-putar di tempatnya
Jika benar ada banyak kelahiran
Entah sudah berapa abad aku bertarung
Atau berapa tempat telah kusinggahi
Dan berapa kisah telah kutoreh
Mengapa aku terus berjalan?
Apa yang bisa membuatku terhenti?
Karena aku bukan orang yang percaya bahwa proses kematian adalah stasiun perhentian.
Lalu apa aku benar-benar menginginkan sebuah pembinasaan?
Ketiadaan dari diriku?
Dengan ini, apa aku mulai diklasifikasikan sebagai orang yang lelah bertarung di kehidupan?
Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang selalu berspekulasi.
Apa spekulasiku sudah cukup terbaca?
: Sekarang, sebelum lupa, aku menulis ini.
Di tengah malam.
Setelah membaca banyak derita.
Dari orang yang tak pernah banyak bercerita.
Tentang duka yang dia pendam.
“Sendiri?”
Tiap orang memiliki masalahnya.
Dan menganggap hanya aku yang punya masalah,
Mungkin itu masalah lain dalam caraku menghadapi masalah.
Dan untuk menyimpannya sendiri,
Kupikir itu masalah yang akan dia hadapi
Suatu saat ketika semua emosi menelannya.
Atau justru akan menjaganya? Membuatnya aman?
Sejak dulu, bagiku hidup adalah ramalan.
Dan ya,
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kehidupan.
Benarkah kehidupan adalah sebuah perjalanan? Tanpa akhir bahkan tanpa titik perhentian?
Apakah dengan semakin banyak kata-kata, maka semakin mudah juga untuk membuat orang-orang bisa mengenali seperti apa kehidupanku?
Apa aku punya kepentingan untuk konklusi kepada pengertian?
: Suatu saat nanti,
Aku akan sampai.
Pada satu titik dan berhenti
Dan aku akan mengerti.
Aku terus berjalan. Dan terus berkata, dengan bodohnya
: Akan ada makna dari apa,
Yang kucari.
Yang belum kutemukan.
Dari apa,
Yang menyembunyikan diri.
Dan nyatanya benar, makin lama aku berjalan, makin aku merasa otakku membentuk jaring-jaringnya yang semakin rumit untuk kumengerti.
Makin aku mencari alasan, dan banyak mengumpulkan istilah-istilah. Supaya aku kelihatan pintar. Supaya aku jadi tenar. Hanya dengan sumpalan kata-kata di kepala. Lalu, mendengar orang berkata
: Bagus.
Indah.
Liris.
Penuh makna.
Luar biasa.
-
Kadang aku kehilangan apa arti dari kehidupan. Karena semuanya makin merumit, membentur hipotesa-hipotesa yang sudah kukarang selama ini, dan ternyata salah.
Padahal semua itu kukarang, hanya untuk meyakinkan
: Aku masih hidup.
Tidak pernah peduli, apakah orang lain di sekitarku juga merasa hidup. Terus, berulang-ulang, dengan egoisnya kuulang kalimat fana di kepala:
: Aku hidup.
Tidak gila.
Tidak sekarat.
Walau aku tak mengerti apa yang kini ada di kepalaku.
: Aku selalu dengan tiba-tiba, menulis
Entah kata-kata apa yang berjejalan di kepala
Menyadari bahwa entah kenapa
Hidup tak pernah semudah yang kuduga
Kupikir, menulis paragraf adalah perkara merangkai kalimat
Sama seperti kupikir
Menjalani hidup, hanyalah perkara mengurus perut dan otak.
Ketika aku berbincang dengan satu orang
Muncul perkara subjektivitas
Kekaguman semu
Yang akhirnya menghilang bersama bayang-bayang
Makin aku menyadari
: Bahwa hidup tidak pernah sederhana
: Masa kecil, masa remaja, masa transisi, dewasa, tua, mati
: Masa kecil : Masa dimanja, masa merengek, menangis mengiba
: Masa remaja : Tempat mengumpul rasa suka, melupakan duka
: Masa transisi : Saat kehilangan siapa itu diri
Dan seterusnya dan seterusnya.
Lalu menemukan.
: Bahwa tiap masa, ternyata akan berbeda maknanya. Untuk mereka-mereka
: yang menangis kelaparan di masa kecilnya, ke sana kemari meminta sedekah
: yang menangis karena iri dengan robot-robotan tetangga sebelah
: yang menangis menjerit-jerit saat pacarnya selingkuh
: yang menangis karena tak bisa melanjutkan sekolah
Bahwa mungkin seorang bocah melihat hidup sebagai permainan.
Penjaja tubuh melihat hidup sebagai nikmat birahi.
Cendekia melihat sebagai perpustakaan ilahi.
Atau biarkan aku melihatnya sebagai apa yang semu.
Dan semu ternyata memiliki banyak kategorinya.
Ingin tertawa?
Bukankah hidup memang sebuah ironi.
Ketika orang berkata
: Inilah titik jenuhmu
Ini hanya pelarianmu
Ukiran pemikiran seorang bocah ingusan
Semua spekulasi muncul. Dan mungkin sudah ditangani oleh teori-teori orang-orang besar yang lahir lebih dulu dariku.
: Kumpulkan apa yang belum pernah ada.
Dan berlelah-lelahlah kumaki diri
Akan ketololan mengumpulkan fakta-fakta.
Dari mana saja.
Dari apa, yang semakin menguras waktu.
Dan berubah-ubah bentuknya.
Dari guratan-guratan di batu-batu di dalam goa, kepada serat optik.
Ingin menyadarkan siapa, bahwa hidup adalah perjalanan tanpa akhir, jika kita terus berjalan untuk menyadarkan dan tidak ingin berhenti.
Lalu apakah sebuah perhentian memang benar pada kematian?
: Aku dulu pernah terhenyak
Ketika mengetahui
Bahwa tiap orang memiliki masalah
Mengulur waktu lagi
Dan kutemukan sesuatu yang kompleks
Bahwa masalah memiliki rantainya
Yang dari mananya,
Timbul rasa ingin tahu
Mencari lagi dan berusaha mengerti
Kepada apa-apa saja masalah itu
: latar belakang ekonomi, kehidupan sosial, kehidupan pribadi?
Kepada bagaimana orang-orang menghadapinya
: berhutang, mencuri, merampok, menangis, bunuh diri?
Kepada karakter-karakter yang berbeda-beda
: yang berdiam, menghujat, memaki, membenarkan diri sendiri?
Kepada latar belakang dari semua pembeda
: psikologi, behavioristik, klenik?
Kepada lingkungan
:keluarga kaya, sederhana, miskin, melarat, keluarga mafia, ayah-ibu otoriter?
: sekolah privat, sekolah swasta, masyarakat, tempat les, geng, perkumpulan?
Kepada proses penempatan
: kenapa di sini? pada keluarga ini? kenapa tidak di sana?
: kenapa di Inggris? Dan bukan di Indonesia?
: kenapa pada tahun 2008? Bukan 1928, pada zaman pemuda?
Kepada proses kelahiran
: di beragam benua
: di beragam waktu
: atau bahkan di planet-planet di galaksi-galaksi di luar sana?
: ditambah juga pada pengukuran segala hal berdasar tahun cahaya?
Kepada proses penciptaan
: terhenti
: pada Tuhan.
Lalu kutemukan lagi
Pada karakter-karakter yang tak percaya
Pada karakter-karakter yang percaya
Pada siapa yang percaya
Kubiarkan mereka terus melangkah
Dan aku terus meneliti ketidakpercayaan
Pada kaum agnostik
Pada sejarah NAZI
Pada komunis-komunis
Sambil membandingkan dengan para agamis
Membaca teori-teori ilmu pengetahuan
: Yang sempat dikelompokkan berdasar kepercayaan
Bahwa hidup itu terlalu rumit
Untuk disibak ada proses apa di baliknya
Melihat sekeliling
: Ada yang terus membaca, beragam bahasa
Ada yang terus menulis, beragam cerita
Ada yang terus melakoni, beragam derita
Atau sekedar bersantai, menyesap bahagia
Aku tidak ingin mengklasifikasikan diriku pada apa
: Tapi kusadari,
Untuk tidak mengklasifikasikan diri,
Adalah sebuah proses
Untuk mengklasifikasikan diri pada orang-orang
Yang juga tidak mengklasifikasikan diri pada apa-apa
Ingin berhenti
: Berarti aku meniru orang-orang yang juga berhenti?
Dan, benarkah memang berhenti?
Yakinkah bahwa kematian akan menghentikan?
Bahwa bunuh diri adalah proses mencapainya?
Aku tak cukup pintar untuk memilih, maka kubiarkan tubuhku terus berjalan, tanpa pengertian. Karena aku tak cukup nyali untuk mengakhiri apa yang tak kuketahui.
Semakin aku diarahkan ke beragam jalan dengan beragam navigasi
Berputar-putar di tempatnya
Jika benar ada banyak kelahiran
Entah sudah berapa abad aku bertarung
Atau berapa tempat telah kusinggahi
Dan berapa kisah telah kutoreh
Mengapa aku terus berjalan?
Apa yang bisa membuatku terhenti?
Karena aku bukan orang yang percaya bahwa proses kematian adalah stasiun perhentian.
Lalu apa aku benar-benar menginginkan sebuah pembinasaan?
Ketiadaan dari diriku?
Dengan ini, apa aku mulai diklasifikasikan sebagai orang yang lelah bertarung di kehidupan?
Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang selalu berspekulasi.
Apa spekulasiku sudah cukup terbaca?
: Sekarang, sebelum lupa, aku menulis ini.
Di tengah malam.
Setelah membaca banyak derita.
Dari orang yang tak pernah banyak bercerita.
Tentang duka yang dia pendam.
“Sendiri?”
Tiap orang memiliki masalahnya.
Dan menganggap hanya aku yang punya masalah,
Mungkin itu masalah lain dalam caraku menghadapi masalah.
Dan untuk menyimpannya sendiri,
Kupikir itu masalah yang akan dia hadapi
Suatu saat ketika semua emosi menelannya.
Atau justru akan menjaganya? Membuatnya aman?
Sejak dulu, bagiku hidup adalah ramalan.
Dan ya,
Terlalu banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kehidupan.
Benarkah kehidupan adalah sebuah perjalanan? Tanpa akhir bahkan tanpa titik perhentian?
Apakah dengan semakin banyak kata-kata, maka semakin mudah juga untuk membuat orang-orang bisa mengenali seperti apa kehidupanku?
Apa aku punya kepentingan untuk konklusi kepada pengertian?
Minggu, 27 April 2014
Yang aku perjuangkan, Yang kau abaikan
Setiap
orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam
dan menunggu pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah
yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa
masih ingin memperjuangkanmu.
Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan
ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kau tak ada di sampingku, entah untuk
menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka
seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangmu? Aku tak tahu, jadi jangan
tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar
kupahami.
Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu
yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam
penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak,
kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu,
sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya,
aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan
sakit bagiku.
Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu
tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang
selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti
apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan
sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?
Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam
menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan
mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah
dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan
matahari, bukan mendung seperti ini.
Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana
larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa
memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali
kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya
aku ingin menangis.
Ini semua perjuanganku untuk mempertahanmu, apakah sudah
cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini
selalu kau abaikan. Apakah hatimu sedikit tersentuh, hingga kau ingin datang dan membawaku pulang?
Jumat, 25 April 2014
Tuhan Yesus, Aku Tak Minta Banyak Hal
Tuhan Yesus... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku harap ketiga salam yang aku ucapkan tengah salah satunya di surga. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Di Indonesia hanya ada dua musim, Tuhan. Oleh sebab itu aku hanya menanyakan kedua musim itu. Tapi, jangan bilang di surga sedang musim durian Sebab aku penggemar berat durian, Tuhan. Heheh.. Ataukah di surga sekarang sedang turun salju? Pasti indah, bukan?. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin di Seoul atau New York juga bisa. Sebelum aku mencapai umur 25 tahun, aku mohon kabulkanlah itu. Bolehkan, Tuhan? Aku yakin Tuhan sedang mengangguk sambil tersenyum jengkel saat ini. Tak apa Tuhan, aku maafkan. Oh… tak sabar menunggu hari itu akan tiba Tuhan..
Aku tahu Engkau tak pernah sibuk untuk hambaMu. Aku tahu
Engkau selalu mendengar isi hatiku meskipun Engkau tak segera memberi pukpuk di
bahuku atau membiarkanku tenggelam dalam dada hangatMu. Aku sangat yakin pasti
rasanya hangat dan nyaman sekali tenggelam didadaMu. Oh.. Tuhan, peluklah aku. Aku
tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Aku percaya
telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin
pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya
menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali
kepingan-kepingan hati yang patah. Juga aku paham betul tentang rencanaMu yang
indah seperti pelangi sehabis hujan.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti
topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu.
Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap
panjang denganMu. Iya, dia. Tentu saja Engkau menjadi hapal kental dengan nama
yang ribuan bahkan puluhribuan kali kuabadikan dalam doa-doaku.
Sejak lama, aku tahu ini akan menjadi jalan sulit yang
kutempuh. Setiap detikku selalu bermanja-manja atau bahkan merajuk imoet padaMu
guna mendapatkan perhatian lebih dariMu yang aku tak dapatkan dari siapapun
didunia ini. Aku sangat butuh perhatian dariMu, mohon jadikan aku kekasih sebab
kekasihku tengah tak bisa memberi perhatian yang aku dambakan. Dia cukup sibuk
dan Tuhan cukup punya waktu untuk memberiku perhatian-perhatian itu. Bukan
bermaksud menjadikan selir hati, kecintaanku pada Tuhan adalah yang pertama dan
terutama namun salahkah gadis kecilMu ini memiliki perasaan seperti orang
dewasa? Aku harap Engkau mengerti tentang jatuh cinta, seperti drama korea yang
baru-baru ini kutonton. Lalu, mengapa Tuhan kelihatan sibuk sehingga tak mengabulkan
permintaanku tahun lalu?
Aku sudah tahu, jalan inilah yang Engkau ciptakan dan akan
merupakan sesuatu yang terbaik untukku. Jarak dengan ribuaan bahkan puluhribuan
kilo meter, tak tersentuh. Aku mengerti kalau Kamu sudah memantapkan rencana
untuk kehidupanku ntah dengan siapapun yang telah Engkau pilih untukku. Tapi...
bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan? Ataukah aku
pasrah saja dengan takdirMu yang kata mereka tak dapat diubah oleh perjuangan
seperti apapun itu? Omong kosong! Bukan padaMu Tuhan, tapi pada mereka yang tak
percaya takdir sebenarnya ditentukan oleh kegigihan umatMu. Dan mungkin, aku
belum cukup gigih untuk meraih impian itu. Buktinya, aku masih begini.
Nah... kalau yang ini, Tuhan juga sudah tahu. Dia tengah
menikmati hari-harinya yang cukup sibuk dan dibatasi oleh keadaan sehingga dia
tak bisa mengabariku. Oh, baiklah aku tengah berpikir ntah ada atau tidaknya
diriku, mungkin tak berpengaruh. Semoga dia sukses, itu juga demi kariernya dan
intinya mau tak mau aku harus mau*bahasa kacau*. Atas alasan apapun itu, aku
harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan
kerinduannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring
mendapatkan perubahan hidupnya, ia pasti disibukan oleh sejuta hal-hal baru. Semoga
dia baik-baik saja tanpa sakit seperti ingusan dan penyakit apapun. Sungguh...
aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak
pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka di dadaku. Luka karna aku
harus merelakan satu-satunya hadiah terindah dari seseorang yang sangat
kusayangi dalam hidup ini. Kini, ia rusak dan tak bisa dibolo. Maafkan aku
karna tak menjagamu sepenuh hati sehingga orang lain berhasil merusakmu.
Kembali, aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.
Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja
menangis, dadaku terasa sesak setiap kali teringat akan mimpi indah itu.
Apalagi ketika dia sepertinya tak memperdulikanku dalam hidupnya. Aku memang
tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup
pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap
manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya.
Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya.
Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa
yang sebenarnya ada dalam hatinya. Sebenarnya,apa isi hatinya, Tuhan?
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya
dengan teman-temannya. Atau tentang kegiatan barunya di asrama. Seminggu sudah
tanpa kabarnya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti
bahagia, karena begitulah setiap kali dia berbincang-bincang denganku. Dia
selalu mengesampingkan hal-hal yang dapat merusak hari-harinya. Okelah, dia
memang pelupa yang luar biasa, begitu katanya. Oleh sebab itulah, aku tak perlu
khawatir akan kebahagiaannya. Pasti, pasti mudah baginya meraih itu semua meski
tanpa mengabariku.
Aku percaya dia sedang dalam titik baik-baik saja, dan tidak
lagi memikirkanku dalam helaan napasnya maupun rutinitasnya yang dulu butuh
semangat dariku. Mungkin, ada orang lain yang lebih menyemangatinya. Begini
Tuhan, aku punya permintaan yang sama seperti kemarin. Jagalah kebahagiaannya
untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan.
Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku
ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang
tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya
dalam doa.
Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan
segala rindu yang tengah kurasa. Agar aku tak merasa kesepian seperti kehilangan
sesuatu yang berharga dari hari-hariku dan tak perlu menangisi sebuah jarak.
Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa
sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa
seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi,
bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang
telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga
tak apa-apa.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia.
Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut
senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah
ingin dia merasakan sakitnya kehilangan, seperti yang aku rasakan.
Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera pulih dari amnesia kemudian mencariku, mengabariku lalu mengatakan “aku rindu kamu”. Itu mustahil, Tuhan. Sudah, tak apa. Tak harus seperti itu. Aku hanya minta supaya Engkau selalu menyertainya, agar segala yang dikerjakannya berhasil ntah dalam hal apapun juga, lalu jauhkanlah dia dari segala penyakit seperti deman atau influenza karna belakangan ini cuaca cukup buruk, Tuhan. Oke, tolong kabulkanlah. Amen.
Sekali lagi kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia
bahagia. Cukup.
Langganan:
Postingan (Atom)